Kilaspapua, Sentani – Gubernur Papua, Matius D Fakhiri mengharapkan lewat konferensi III masyarakat adat dan pemuda I wilayah Mamta – Tabi dihasilkan tatanan adat.
“ Kalau turunan Ondofolo hingga ke bawah bagaimana. Hal itu penting bagi kami sebagai pemerintah untuk melakukan proteksi bahkan memberikan afirmatif dalam perlindungan itu ,” kata Gubernur Papua didampingi Bupati Jayapura, Yunus Wonda serta ketua panitia, Yulianus Dwa usai membuka konferensi III masyarakat adar dan pemuda I wilayah Mamta – Tabi, di Hotel Suni Sentani, Rabu (7/10/2010).
Matius yang akrab disebut MDF menyebutkan, sebagai anak asli Papua tak ingin tatanan sosial rusak sebab tidak dirawat.
“ Kami dipercayakan Tuhan memimpin negeri ini sebagai anak adat kami juga memiliki kerinduan yang sama, sehingga sebagai Gubernur Papua ini harus dilakukan pada konferensi III dan pemuda supaya dengan hasil ini bisa menjadi pegangan pemerintah untuk menyelesaikan semua persoalan hak ulayat secara baik ,” sebutnya.
Maka itu lewat konferensi III ini, Gubernur berharap dewan adat diperbaiki kalau bisa satu hingga turunannya begitu juga tatanan sosial juga. Dari setiap suku sampai tingkat ke ondofolo satu tidak boleh ganda agar kedepan kita sama-sama menjaga dan merawat tanah Papua dengan baik ,” harapnya.

Belajar dari Bali
Sementara, Bupati Jayapura, Yunus Wonda mengatakan, lewat konferensi III ini ada hasil yang didapatkan.
Contohnya, hak-hak tanah tidak dijual namun dilakukan kontrak.
Belajar dari Bali. Menurut, Bupati, di Bali umumnya tidak dijual tetapi dikontrak selama 10 – 20 tahun. Ini penting sebab ketika kita sudah tidak ada maka anak cucu masih ada harapan.
“ Jika dijual maka anak cucu kita tidak akan mendapatkan apa-apa ,” ujarnya.
Selain itu, Bupati juga menyoroti untuk adat agar tidak mudah memberikan mahkota bahkan marga kepada orang-orang yang bukan asli Papua.
“ Kita kasi mahkota dan marga, tidak bisa sepert itu. Justru kita sendiri yang menghancurkan tatanan adat kita maka itu lewat konferensi ini tak boleh lagi ada mahkota bahkan pemberian marga kepada orang yang bukan asli Papua ,” ucapnya.
ketua panitia, Yulianus Dwa mengungkapkan, Ratusan ondofolo hadiri konferensi III masyarakat adat dan pemuda I wilayah Mamta – Tabi ditambah 50 delegasi di 7 dewan adat yakni, Keerom, Port Numbay, Bhuyaka, Grimenawa, Sarmi, Mamberamo Apawer dan lain-lainnya ,” ungkapnya.
Tidak bicara politik
Konferensi ini membahas hak-hak dasar masyarakat adat dan bukan politik. Sesuai tema, kita selamatkan manusia, kita selamatkan tanahnya, kita selamatkan SDA di wilayah adat Mamta – Tabi ,” imbuhnya.(Redaksi)




