Yanni Apresiasi RSUP Jayapura, Rekrut 201 Orang Asli Papua

oleh -237 Dilihat
oleh

Kilaspapua, Jayapura – Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua (KEPP Otsus Papua) yang juga adalah Ketua DPD Gerindra Papua di temani dua Anggota DPR Papua Giovano Pattipawae dan Yohanes Wakum , Yanni bertemu dengan jajaran manajemen RSUP Jayapura, Senin, 5 Oktober 2026.

Yanni diterima Direktur Utama RSUP Jayapura Petronella Marcia Risamasu dan Direktur Perencanaan, Keuangan, dan Layanan Operasional (PKLO) RSUP Jayapura Antonius Oktavian Ibo Ilambra.

Pertemuan itu membahas aspirasi keluarga besar pemilik hak ulayat tanah RSUP Jayapura, terutama soal kesempatan kerja bagi anak-anak Papua dari Distrik Yoka dan wilayah sekitarnya.

Dalam pertemuan tersebut, manajemen RSUP Jayapura menunjukkan data rekrutmen tenaga kerja orang asli Papua (OAP). Dari lebih dari 700 tenaga kerja, sebanyak 201 orang merupakan OAP.

Mereka bekerja di berbagai bidang, antara lain driver, cleaning service, security, manajemen, perawat dan tenaga kesehatan lainnya.

Untuk tenaga security, jumlah OAP yang bekerja mencapai 71 orang. Data tersebut belum termasuk dokter umum, dokter spesialis dan tenaga kesehatan lainnya.

“Setelah kemarin saya datang langsung dan melihat data serta nama-nama yang ada, ternyata jumlahnya sudah cukup besar. Ada 201 orang asli Papua yang bekerja di sana,” kata Yanni kepada wartawan di Jayapura, Rabu (7/10/2026).

Jumlah tersebut hampir mencapai 30 persen dari total tenaga kerja RSUP Jayapura.

Yanni memberikan apresiasi kepada manajemen RSUP Jayapura yang telah membuka kesempatan kerja bagi OAP.

Ia berharap kebijakan tersebut terus dilanjutkan sehingga semakin banyak anak Papua mendapat kesempatan bekerja sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing, dan berpesan kepada para tenaga kerja supaya bekerja dengan sungguh – sungguh penuh tanggung jawab sebab yg bekerja di RSUP Jayapura ada orang – orang pilihan yang memiliki integritas dan disiplin tinggi dalam menjalankan tugasnya di Rumah Sakit Kebanggaan Kita.

Pertemuan itu juga membicarakan hubungan antara pihak rumah sakit dan keluarga besar pemilik hak ulayat. Yanni melihat ada ruang yang baik untuk mempertemukan kepentingan kedua pihak.

Menurut Yanni, masyarakat pemilik hak ulayat perlu mendapat penjelasan yang utuh dan terus mendukung suasana kondusif di sekitar rumah sakit. Sebaliknya, pihak rumah sakit juga perlu terus berkomunikasi dengan masyarakat setempat.

“Yang penting komunikasi terus berjalan. Rumah sakit ini harus terus meningkatkan pelayanan sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Papua,” ujarnya.

Yanni mengatakan data yang diperoleh dari pertemuan tersebut penting untuk menjelaskan kondisi sebenarnya.

“Setelah saya lihat langsung datanya, ternyata sudah banyak anak Papua yang bekerja di sana. Ini tentu harus kita apresiasi,” katanya.

Dokter Spesialis OAP

Yanni berharap dalam jangka panjang semakin banyak anak Papua yang menempuh pendidikan kedokteran hingga menjadi dokter spesialis.

Menurutnya, Papua membutuhkan lebih banyak dokter spesialis yang berasal dari putra-putri Papua dan kemudian mengabdi untuk masyarakat di daerahnya.

“Harapan kita ke depan semakin banyak anak Papua yang menjadi dokter spesialis. Mereka bisa kembali ke Papua dan memberikan kontribusi untuk kesehatan masyarakat,” kata Yanni.

Untuk mencapai hal tersebut, Yanni menilai negara perlu memberikan dukungan yang lebih besar lagi melalui kebijakan afirmatif. Dukungan itu dapat berupa beasiswa, akses pendidikan kedokteran, hingga program khusus bagi anak-anak Papua yang ingin melanjutkan pendidikan dokter spesialis.

“Kalau kita ingin melihat lebih banyak dokter spesialis orang asli Papua, tentu perlu ada kebijakan afirmatif yang konsinten dari negara. Anak-anak Papua harus diberi ruang dan kesempatan untuk sampai ke sana,” ujarnya.

Yanni berharap semakin banyak putra-putri Papua yang mendapat kesempatan menempuh pendidikan kedokteran dan kembali bekerja di Tanah Papua. Dengan begitu, kebutuhan dokter dan tenaga kesehatan di Papua perlahan dapat diisi oleh anak-anak Papua sendiri.

“Papua tidak boleh terus kekurangan dokter. Kita harus menyiapkan anak-anak Papua menjadi dokter, menjadi dokter spesialis, lalu kembali mengabdi di tanahnya sendiri. Itu yang harus kita dorong bersama,” demikian Yanni.(Rilis)