Lewat Festival Colo Sagu Tahun 2026, Kapolresta Konsisten Pertahankan Pangan Lokal Khas Papua

oleh -48 views
Kapolresta didampingi Walikota dan Kepala Kanwil Kemenkum Papua saat menokok sagu lewat kegiatan Explore Dusun Sagu di Dusun Sagu Kampung Skouw Yambe.(Foto. Humas Polresta Jayapura Kota)

‎Kilaspapua, Jayapura – Menyambut Hari Bhayangkara ke-80 dan HUT Sagu yang masih merupakan rangkaian Festival Colo Sagu Tahun 2026, Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Fredrickus W. A. Maclarimboen, S.I.K., M.H., CPHR selaku founder Colo Sagu menggelar kegiatan Explore Dusun Sagu di Dusun Sagu Kampung Skouw Yambe, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Jumat (19/6/2026).

‎Kegiatan yang mengusung tema “Sagu Menghidupi, dari Tradisi Menuju Kemandirian Ekonomi” tersebut dihadiri oleh Wali Kota Jayapura Dr. Abisai Rollo, S.H., M.H., Dansatrol Koarmada III Jayapura Kolonel Laut (P) Bambang Abdullah Basuki Rahmad, Ketua MRP Papua Nerlince Wamuar, S.E., M.Pd, Kepala Kanwil Kemenkumham Papua Anthonius Mathius Ayorbaba, S.H., M.Si., Direktur PDAM Kota Jayapura Dr. H. Entis Sutisna, S.E., M.M., Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Jayapura Gerardus Ikanubun, S.Pi., M.Si., serta para pejabat utama Polresta Jayapura Kota dan tamu undangan lainnya.

‎Dalam sambutannya, Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol. Fredrickus Maclarimboen saat didampingi Ketua Panitia FCS-2026 Michael Yerisetouw mengatakan bahwa kegiatan Colo Sagu bukanlah kegiatan baru, melainkan upaya melanjutkan perjuangan para penggiat sagu yang selama ini konsisten menjaga dan melestarikan pangan lokal khas Papua.

‎”Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian agar masyarakat tidak melupakan sagu sebagai warisan budaya dan sumber kehidupan masyarakat Papua. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat mendorong perhatian berbagai pihak untuk terus menjaga keberlangsungan hutan sagu dan meningkatkan nilai ekonominya,” ujar Kapolresta.

‎Lebih lanjut, Kapolresta mengungkapkan rencana inovatif yang akan dilakukan Polresta Jayapura Kota, yakni mengajak pasangan anggota Polri yang baru menikah untuk menanam sagu sebagai simbol dan filosofi dalam membangun rumah tangga.

‎”Sagu yang tumbuh lurus melambangkan komitmen dan kesetiaan dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Selain itu, sagu juga memiliki sifat yang tidak egois karena mampu menyimpan air dan memberi kehidupan bagi tumbuhan lain di sekitarnya. Nilai-nilai inilah yang ingin kami tanamkan kepada setiap pasangan yang membangun keluarga baru,” jelasnya.

‎Kapolresta juga menyoroti masih minimnya masyarakat Papua yang berhasil mengembangkan potensi ekonomi dari komoditas sagu, padahal Papua merupakan salah satu wilayah dengan sumber daya sagu terbesar di Indonesia.

‎Sementara, Wali Kota Jayapura Dr. Abisai Rollo memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan Kapolresta Jayapura Kota dalam mengangkat kembali nilai strategis sagu sebagai identitas dan sumber kehidupan masyarakat Papua.

‎”Sagu itu hidup dan hidup itu adalah sagu. Dari dulu hingga sekarang masyarakat Skouw hidup dari kelapa, pinang dan sagu. Melalui kegiatan seperti ini, kita diingatkan kembali bahwa seluruh bagian dari pohon sagu memiliki manfaat besar bagi kehidupan masyarakat,” ungkap Wali Kota.

‎Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Kota Jayapura untuk terus mendukung berbagai kegiatan pelestarian sagu yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pelestarian budaya lokal.

‎‎Selain melakukan penanaman sagu secara simbolis, para peserta diajak menelusuri Dusun Sagu Kampung Skouw Yambe untuk melihat secara langsung proses pengelolaan sagu dari hulu hingga hilir. Mulai dari pengenalan habitat sagu, proses penebangan, penokokan (pangkur), peremasan, pengambilan pati sagu hingga pengolahan menjadi berbagai produk pangan tradisional maupun modern.

‎Kegiatan Explore Dusun Sagu ini merupakan bagian dari inovasi sosial berbasis kearifan lokal yang diinisiasi Kapolresta Jayapura Kota selaku Founder Colo Sagu. Selain menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan generasi muda, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem sagu sebagai penopang ketahanan pangan, pelestarian budaya, serta penggerak kemandirian ekonomi masyarakat Papua.

‎Melalui Festival Colo Sagu 2026, semangat pelestarian sagu diharapkan semakin kuat dan menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat untuk menjaga warisan leluhur Papua demi keberlanjutan generasi mendatang. Di lokasi Dusun Sagu Skouw Yambe hari ini telah ditanam sebanyak 80 pohon Sagu, sebagaimana usia Polri yang masuk 80 Tahun pada 1 Juli 2026 ini.

Sagu Sebagai Pilar Ketahanan Pangan

Gubernur Provinsi Papua Komjen Pol (Purn) Mathius D. Fakhiri, S.I.K., M.H menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Papua untuk menjadikan sagu sebagai salah satu pilar ketahanan pangan dan penggerak ekonomi masyarakat melalui penguatan perlindungan kawasan sagu, pemberdayaan masyarakat adat, serta pengembangan produk turunannya.

‎Hal itu disampaikannya saat membuka Festival Colo Sagu 2026 yang mengusung tema “Sagu Menghidupi: Dari Tradisi Menuju Kemandirian Ekonomi” di Kota Jayapura, Jumat (19/6/2026).

‎Menurut Mathius, sagu memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar bahan pangan tradisional masyarakat Papua.

‎“Bagi orang Papua, sagu bukan sekedar bahan pangan. Sagu adalah identitas, sejarah, dan bagian dari perjalanan hidup masyarakat adat yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Gubernur Papua saat mencicipi sagu bersamaan sejumlah pihak pada pembukaan festival colo sagu .(Foto. Humas Polresta Jayapura Kota)

‎Ia menjelaskan, di balik hamparan hutan sagu tersimpan nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta kearifan lokal yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua selama berabad-abad.

‎Karena itu, kata dia, pembicaraan mengenai sagu sejatinya merupakan pembicaraan tentang masa depan Papua, termasuk ketahanan pangan, perlindungan ekosistem, pemberdayaan masyarakat adat, serta pembangunan ekonomi berkelanjutan.

‎“Papua dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa dan sagu merupakan salah satu aset strategis yang dapat menjadi fondasi kedaulatan pangan daerah,” katanya.

‎Dirinya juga mengatakan pemerintah daerah akan terus mendorong penguatan ekosistem sagu melalui perlindungan kawasan hutan sagu, pengembangan riset dan inovasi, serta peningkatan nilai tambah produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

‎‎Ia menilai pengembangan sagu tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga adat, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas lingkungan, dan masyarakat.

‎“Ketika seluruh elemen bergerak bersama, maka sagu tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat Papua,” imbuhnya. (Rilis)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *