Modernisasi Fasilitas : Mengapa Belum Cukup untuk Mendongkrak Literasi Siswa ?

oleh -486 views
iIustrasi

Oleh: Jeni Jacline Okhiu Kahipdana

Di berbagai pelosok negeri, banyak sekolah berlomba-lomba mengubah wajah perpustakaannya. Dari rak kayu yang kusam menjadi rak besi yang modern, hingga pemasangan AC yang membuat ruangan sejuk. Namun, sebuah pertanyaan besar muncul di tengah kemegahan fasilitas tersebut: Mengapa angka literasi siswa kita masih jalan di tempat?

Fenomena ini terlihat nyata dalam observasi di Perpustakaan SMA YPPK Teruna Bakti Waena. Meskipun fasilitas sudah memadai dan berprestasi, peningkatan literasi tetap menghadapi jalan terjal.

Fasilitas Nyaman, Tapi Salah Sasaran?

Modernisasi sering kali baru menyentuh aspek fisik, bukan psikis. Ruangan ber-AC dan bersih memang berhasil menarik siswa masuk, namun sering kali bukan untuk membaca. Banyak siswa datang hanya untuk “ngadem”, duduk bercerita, atau bahkan tertidur karena kenyamanan ruangan yang kontras dengan udara panas di luar.

Hal ini sejalan dengan pendapat Najwa Shihab (Duta Baca Indonesia) yang pernah menekankan bahwa: “Membangun perpustakaan bukan sekadar membangun gedung atau menyediakan buku, tapi membangun ekosistem cinta ilmu. Fasilitas hanyalah wadah, sementara nyawanya ada pada interaksi dan kebiasaan.”

Pertarungan Melawan Kecepatan Digital

Di era ini, buku fisik harus bertarung melawan gawai (HP) yang menawarkan kecepatan instan. Siswa saat ini cenderung menganggap membaca buku sebagai proses yang lambat dan melelahkan. Bagi mereka, mencari informasi di internet jauh lebih praktis daripada membalik lembaran buku di perpustakaan.

Garry Kasparov dalam perspektif pendidikan modern menyebutkan bahwa tantangan literasi

saat ini adalah “Infobesity” (obesitas informasi). Siswa dibanjiri informasi instan, sehingga kehilangan ketekunan untuk membaca mendalam (deep reading) yang hanya bisa didapatkan melalui buku.

Literasi: Kewajiban atau Kesenangan?

Masalah mendasar lainnya adalah literasi masih dianggap sebagai tugas formal. Siswa datang ke perpustakaan karena instruksi guru atau saat jam pelajaran kosong. Tanpa adanya dorongan internal, perpustakaan hanya akan menjadi “museum modern” yang sepi aktivitas intelektual.

Kesimpulan & Solusi

Modernisasi sarana adalah langkah awal yang krusial, tetapi tidak boleh berhenti di sana. Fasilitas yang mewah harus dibarengi dengan program literasi yang kreatif agar bisa bersaing dengan daya tarik internet. Tantangannya bukan lagi soal “di mana” siswa membaca, melainkan “bagaimana” kita membuat aktivitas membaca itu semenarik bermain game di ponsel mereka.

Referensi:

  • Kelompok 3. (2026). Laporan Observasi Manajemen Perpustakaan: Perpustakaan SMA YPPK Teruna Bakti Waena. Jayapura: Program Studi Manajemen Pendidikan, Universitas Cenderawasih.
  • Najwa Shihab. Catatan tentang Literasi dan Ekosistem Membaca di Indonesia.
  • Wolf, M. (2018). Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World. (Terkait dampak digital terhadap fokus membaca)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *