Uang Kerugian Negara Senilai 2,9 Milliar Dikembalikan ke Kejati Papua, Bupati Boven Digoel : Tidak Ada Niat mau Korupsi !

oleh -75 views
Kajati Papua saat menerima pengembalian uang kerugian Negara senilai Rp 2,9 Milliar dari Bupati Boven Digoel.(Foto. Ist)

Kilaspapua, Jayapura- Bupati Boven Digoel, HY mengembalikan uang senilai Rp 2,9 Milliar kepada pihak Kejaksaan Tinggi,(Kejati) Papua yang diterima oleh, Kajati Papua, Nikolaus Kondomo, SH,MH. Uang tersebut merupakan kerugian negara terhadap kasus dugaan korupsi di Perusahaan daerah Boven Digoel Sejahtera senilai Rp 2,9 miliar tahun 2021-2022.

Kepala Kejaksaan Tinggi Papua Nikolaus Kondomo kepada wartawan mengapresiasi apa yang dilakukan HY. “Kami apresiasi niat baik HY untuk membalikkan uang tersebut sehingga negara tidak dirugikan,” ucapnya, Selasa (2/8/2022).

Kajati menegaskan, meski ada niat mengembalikan uang negara, namun perkara tersebut tetap dilanjutkan. “Perkara ini diberhentikan atau SP3, ya nanti kami lihat,” ujar Kajati.

Sementara itu, Bupati Boven Digoel, HY mengaku siap mengikuti apa saja proses hukum yang berlaku. “Tentunya sebagai warga negara, saya selalu siap mengikutinya,” katanya

Soal kasus yang melilitnya, Ia menjelaskan, uang itu digunakan hanya untuk kegiatan pelantikan dan keagamaan saja.

“Saya dilantik saat itu akhir tahun namun ketika itu, kas bupati tidak ada. Makanya, saya pakai uang di kas perusahaan daerah. Tidak ada niat untuk memakai uang tersebut demi kepentingan pribadi atau memperkaya diri sendiri. “Tidak ada niat mau korupsi. Yang jelas, uang itu dipakai hanya untuk kegiatan dengan tujuan keagamaan namun sekarang sudah dikembalikan,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Tim Pidana Khusus Kejati Papua tengah menyelidiki dugaan kasus korupsi di Perusahaan daerah Boven Digoel Sejahtera senilai Rp 2,9 miliar tahun 2021-2022. Terkait kasus itu, 8 orang saksi, satu di antaranya Bupati Boven Digoel HY telah menjalani pemeriksaan.(Redaksi)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *