UMKM Lokal di Papua Sambut Kemudahan Bertransaksi Qris, Cegah Beredarnya Uang Palsu

oleh -152 views
UMKM lokal peternak ayam petelur yang berada di Dosay, distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura.(Foto. Istimewa) 

Keberadaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah,(UMKM) lokal didaerah tentunya menjadi tulang punggung bagi daerah pasalnya menjadi penopang dalam pembangunan setiap daerah berupa kontribusi Pendapatan Asli Daerah,(PAD).

Berdasarkan data dinas koperasi dan UMKM Kabupaten Jayapura tercatat 6.000 UMKM lokal beragam jenis, saat ini beroperasi diseluruh wilayah Kabupaten Jayapura.

Kepala dinas koperasi dan UMKM Kabupaten Jayapura, Haryanto, SE mengatakan, UMKM juga meliputi mama penjual pinang dan penjual minyak dipinggir jalan dan lainnya ,” katanya kamis (9/7/2026).

Dizaman sekarang, kemudahan dalam bertransaksi cepat dan efisien sangat diingin semua orang, tak kecuali bagi pelaku UMKM lokal.

Ditengah usaha UMKM berjalan tentu transaksi digitalisasi sangat dibutuhkan, seperti contoh, peternak ayam petelur lokal di Dosay, distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Winardi.

Biasanya kalau transaksi pembayaran terkadang menggunakan Qris, transfer dan cash. Tetapi jika pakai Qris biasanya langsung transaksi ditempat dan itu memberikan kemudahan baginya dalam merintis usaha sebagai peternak ayam petelur.

Baginya, menyambut baik kehadiran digitalisasi pembayaran saat ini sebab sangat memudahkan dalam transaksi apalagi mencegah terjadi hal-hal tidak diinginkan bagi pelaku UMKM lokal seperti, uang palsu yang sangat merugikan sebab tidak bernilai.

Meskipun disisi lain, Qris memiliki kelemahan berupa pemotongan biayai admin bila bertransaksi berbeda Bank namun tak dipungkiri system pembayaran Qris mampu menaikkan omzet penjualan bagi peternak ayam petelur dan mampu memperluas pasar. Terkadang ada pembeli langsung datang dan bayar pakai Qris atau e- Wallet

“ Memang kemudahan pembayaran sekarang ini yang dicari para pelaku UMKM seperti kami, namun kami juga berharap system ini terus dilakukan pengawasan guna mencegah supaya data nasabah tidak mengalami kebobolan oleh pihak tak bertanggungjawab yang ujungnya berdampak merugikan para pelaku UMKM lokal di Papua ,” ucapnya.

UMKM lokal kuliner dari kampung Sawe Suma, distrik Unurum Guay.

Sementara, pelaku UMKM Kuliner dari kelompok Inger Wewa kampung Sawe Suma, distrik Unurum Guay, Novila Maria Aru mengungkapkan, transaksi digitalisasi sangat diperlukan dalam merintis usaha sebab bisa memicu perputaran uang dengan cepat sehingga menggerak ekonomi di kampung namun dalam menjalankan usaha kuliner seperti, roti berbahan ubi jalar, martabak dari sagu kami masih menggunakan pembayaran manual.

“ Mama di kampung sebagian besar belum paham menggunakan system pembayaran digitalisasi sehingga kebanyakan transaksi masih menggunakan manual atau cash harapannya ini disosialisasikan secara massif supaya memudahkan pelaku UMKM dalam merintis usaha di kampung ,” ungkapnya.(Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *